Risiko obesitas tidak hanya mengintai orang dewasa, tapi juga anak-anak. Kondisi ini biasanya disebabkan karena anak memperoleh banyak asupan kalori dari makanan yang tidak menyehatkan. Mengingat lemak menyumbangkan banyak kalori, apakah anak yang obesitas masih boleh makan makanan mengandung lemak?
Obesitas pada anak tidak hanya disebabkan makanan berlemak

Kelebihan berat badan dan obesitas pada anak disebabkan oleh berbagai faktor. Penyebab yang paling umum antara lain faktor keturunan, faktor psikologis, pola makan tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik, serta gabungan dari seluruh faktor tersebut.
Kasus obesitas banyak terjadi pada anak-anak yang sering mengonsumsi makanan tinggi kalori. Kalori yang besar tersebut biasanya berasal dari fast food, junk food, kue-kue manis, camilan, permen, makanan penutup, serta minuman manis.
Di sisi lain, anak yang makan makanan berlemak tidak serta-merta pasti mengalami obesitas. Obesitas cenderung terjadi karena anak terlalu banyak mengonsumsi makanan mengandung gula. Makanan ini tinggi akan kalori, tapi miskin nutrisi.

Asupan gula yang berlebih akan diubah menjadi sel-sel lemak. Semakin sering anak mengonsumsi gula, semakin banyak pula sel lemak yang terbentuk. Jika anak jarang beraktivitas fisik, timbunan lemak dapat bertambah besar dan mengakibatkan obesitas.
Selain itu, gula berlebih juga memicu obesitas dengan cara mengganggu kerja hormon leptin. Fungsi hormon leptin adalah memberikan rasa kenyang. Asupan gula berlebih dapat mengurangi kemampuan otak dalam merespons sinyal hormon ini. Dampaknya, anak sering merasa lapar dan ingin makan lebih banyak.
Meski lemak identik dengan berat badan yang bertambah, dalang di balik obesitas anak sebenarnya adalah gula dan kurangnya aktivitas fisik. Anak yang mengalami obesitas sekalipun boleh makan makanan mengandung lemak, yang terpenting jumlahnya tidak berlebihan.
Cara memberikan asupan lemak yang sehat bagi anak obesitas

Lemak memiliki sejumlah fungsi bagi perkembangan anak. Tubuh anak membutuhkan lemak untuk menghasilkan energi, membangun sel-sel otak dan sistem saraf, membentuk hormon, melapisi organ, serta menyerap vitamin A, D, E, dan K.
Kendati bermanfaat, Anda perlu memerhatikan jenis lemak yang dikonsumsi oleh si kecil. Berikan ia lebih banyak asupan lemak tak jenuh yang menyehatkan. Sebaliknya, batasi asupan lemak jenuh dan lemak trans yang banyak terdapat pada camilan manis.
Anak yang mengalami obesitas tetap boleh makan makanan mengandung lemak. Namun, ada beberapa penyesuaian yang perlu Anda lakukan. Di antaranya:
- Memilih sumber lemak yang lebih menyehatkan berupa alpukat, minyak zaitun, kacang-kacangan, dan ikan berlemak.
- Memberikan susu rendah lemak dan daging tanpa lemak.
- Membaca label kemasan makanan, sebab produk makanan berlabel ‘fat-free’ terkadang mengandung gula tambahan yang tinggi kalori.
- Membatasi konsumsi gula dan makanan manis.
- Membatasi konsumsi makanan olahan. Sebagai gantinya, berikan si kecil makanan utuh dan alami.
- Mengurangi memasak dengan metode deep-frying. Anda bisa menggantinya dengan menumis, memanggang, atau mengukus.
Lemak memang dapat menambah berat badan. Meski demikian, bukan berarti anak yang mengalami obesitas tidak boleh makan makanan mengandung lemak. Anak-anak dengan obesitas sekalipun tetap memerlukan asupan lemak demi tumbuh kembangnya.
Hal yang menjadi pembeda adalah jenis lemak yang mereka konsumsi. Orangtua boleh memberikan asupan lemak, tapi utamakan lemak dari jenis yang menyehatkan. Tidak lupa, ajak si kecil berolahraga agar tubuhnya lebih aktif membakar kalori. Jika obesitas berkelanjutan, segeralah konsultasikan ke dokter anak.
The post Apakah Anak Obesitas Masih Boleh Makan Makanan Berlemak? appeared first on Hello Sehat.
from Hello Sehat https://ift.tt/2Md1d65
tonton juga video ini
Daftar Unik Skandal Sera Amane
Daftar Unik 5 peraturan sekolah
Komentar
Posting Komentar